31 December 2007

Nggo Ngapa Sekolah

Oleh : Agus Purwanto

Pada sebuah 'kunjungan' di sebuah SD kecamatan Buayan. Saya sempat ngobrol santai dengan anak-anak kelas 6. Pada siswa yang badannya paling bongsor, saya ajukan pertanyaan : "Mas besok lulus SD mau melanjutkan ke SMP mana?"

"Nggo ngapa sekolah?" Jawab dan tanya Si Bongsor nyaris tanpa ekspresi.
Saya tercekat. Blangkemen.


Ya, nggo ngapa sekolah? Nggo ngapa sekolah? Pernyataan dan atau pertanyaan kritis - kadang ada yang menilai sebagai pernyataan subversif - seperti ini sudah sering dilontarkan oleh banyak ahli pendidikan. Kali ini bahkan dengan lugas keluar dari seorang anak kita.
Pertanyaannya : Apakah kita akan terus dalam kejumudan, dengan membuta tuli terhadap suara-suara kritis terhadap lembaga bernama sekolah? Atau kita akan membuka hati, membuka nurani, membuka akal kita dengan jujur mengakui terhadap kondisi sekolah.Ya, Mas Bongsor, nggo ngapa sekolah -kalau sekolah hanya diajar oleh guru-guru yang tidak kompeten mengajar dan mendidik.Kamu tahu Mas Bongsor? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kompetensi guru-guru kita sangat rendah. Di Kebumen misalnya, hasil uji kompetensi guru-guru mata pelajaran SMP tahun 2003 hanya mencapai nilai rata-rata 39.01. Sementara Standard Pelayanan Minimal (SPM) mengharuskan guru memiliki nilai 75. Bagaimana guru-guru dengan kompetensi sangat rendah itu bisa membawa anak-anak didiknya lulus Ujian Nasional yang mematok nilai minimal 4,25 untuk bisa lulus? Itu di Kebumen Jawa tengah - bagaimana kondisinya di daerah luar Jawa? Dampak lainnya, akibat guru-guru yang kurang kompeten, maka potensi terjadinya penyesatan (misleading) dalam pembelajaran makin membesar. Murid-murid 'yang tersesat' ini bukannya tambah cerdas, bisa-bisa otaknya 'hang'. Bandingkan dengan dunia penerbangan. Bila seorang pilot karena sesuatu hal diketahui tidak kompeten, maka sang pilot mutlak harus di-grounded (tidak diperkenankan menerbangkan pesawat), karena bisa membahayakan penerbangan.
Ya, Mas Bongsor, nggo ngapa Sekolah!; Kalau sekolah justru hanya membuat ketidakseimbangan otak anak-anak kita, dengan hanya mendewa-dewakan nilai akademik. Mengutip Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya berjudul 'ESQ' “ …pendidikan di Indonesia selama ini, terlalu menekankan arti penting nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali ditemukan pendidikan kecerdasan emosi yang mengajarkan tentang : integritas; kejujuran; komitmen; visi; kreatifitas; ketahanan mental; kebijaksanaan; keadilan; prinsip kepercayaan; penguasaan diri atau sinergi, padahal inilah yang terpenting”.
Ya, Mas Bongsor, Nggo ngapa Sekolah!; Kalau di sekolah justru terjadi praktek-praktek penindasan, penistaan, dan sikap antidemokrasi!Lihatlah praktek Masa Orientasi Siswa (MOS). Masih juga terlihat murid-murid baru yang disuruh menggunakan krusu (krusu, adalah 'tas' ayam - terbuat dari anyaman daun kelapa/blarak, dan biasa digunakan untuk membawa ayam) untuk membawa buku-buku dan peralatan sekolah. Masih terlihat murid-murid baru di masa MOS yang disuruh memakai topi helm terbuat dari separo bola plastik yang diberi tali rafia kiri kanan. Juga murid baru yang berkalung untaian brambang, bawang, lombok dan bumbu dapur lainnya. Atau berkalungkan rafia dengan papan nama karton dengan nama-nama yang sungguh menistakan : Kadal, Precil, Limbuk, Dlongop, ... Belum lagi praktek-praktek penindasan dan penistataan terhadap harkat manusia lain : bentakan, makian, dan perintah-perintah lain yang sangat keterlaluan dan tidak jelas maksud dan tujuannya selain upaya mempermalukan. Semua itu berdalih ujian mental!Para guru dan kepala sekolah mungkin akan berkilah : itu ulah kakak-kakak senior. Tapi bukankah ada guru pembimbing? Andai bukan perintah guru pembimbng - mustahil kalau praktek-praktek penistaan itu tidak diketahui guru. Praktek MOS cenderung menjadi perpeloncoan yang sangat jauh dari nilai-nilai pendidikan. Dan ini telah berlangsung puluhan tahun hingga kini. Nggo ngapa Sekolah!; Kalau di sekolah murid-murid justru diajak bersekongkol mencurangi Ujian Nasional!Praktek kecurangan pada Ujian Nasional di sebagian sekolah sudah merupakan rahasia umum. Nuansa kecurangan pada Ujian Nasional, sejak dari bernama Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Nasional), telah ada. Dulu ketika jaman EBTA(NAS), ketika koreksi masih dilakukan dengan manual (dengan bolongan obat nyamuk), sudah menjadi kelaziman terdengar 'perintah' dari kordinator koreksi : “Untuk lancar dan suksesnya EBTANAS, harap hasilnya ditambah 1,5 apalagi untuk anak-anak kita yang bernilai rendah”.Ketika Ujian Nasional menggunakan Lembar Jawab Komputer, LJK (proses koreksi menggunakan komputer), kecurangan dilakukan di ruang panitia ujian. Caranya tim sukses sekolah 'memperbaiki' LJK peserta ujian, agar hasil ujian tidak terlalu parah.Tahun terakhir, ketika Prosedur Operasional Standar (POS) mewajibkan pengeleman amplop LJK dilakukan di ruang ujian, ada sekolah bahkan mengajak murid-murid peserta ujian bersekongkol mencurangi ujian. Modus operandinya dengan pesan singkat (SMS) ponsel. Atau dilakukan dengan terang-terangan melalui pengumuman : “Pengumuman. Bagi peserta ujian yang belum mengembalikan pinjaman buku-buku perpustakaan diharap segera mengembalikannya. Berikut nama-nama yang belum mengembalikan buku ke perpustakaan yaitu 1. Dodo, 2. Bambang, 3. Cahyadi, 4. Eko, 5. Agus, 6. Bagyo, 7. Dini ...” Jangan harap Anda menemukan ada murid bernama Zakaria, Parjoko, Toni - karena tidak ada pilihan jawaban Z(akaria), P(arjoko), atau T(oni).Dan hebatnya, pihak Dinas Pendidikan di daerah-daerah dan Depdiknas diam saja melihat kecurangan ini. Barangkali karena Depdiknas pernah melakukan 'kecurangan' serupa dengan melakukan konversi nilai UN yang berakhir heboh beberapa tahun lalu.
Nggo ngapa Sekolah!; Kalau sekolah telah berubah fungsi sebagai pasar atau toko. Lihatlah ketika awal tahun ajaran baru. Sekolah mengambil peran toko atau pasar. Kecuali celana dan baju seragam, sekolah juga menjual buku-buku, ikat pinggang, topi, celana dan kaos olahraga, kaos kaki. Kalau di toko atau pasar, harga baju masih bisa ditawar dan bersaing dengan toko-toko lain. Jangan harap kita bisa menawar barang-barang yang ada di toko bernama 'sekolah'. Belum lagi bisnis kagetan lainnya seperti study tour dan sejenisnya.Bahkan kamu tahu Mas Bongsor, sebagian sekolah dan birokrasi pendidikan pun sekarang ikut-ikutan jadi bakul batik! Mending kalau harganya bersaing, lha wong jatah APBD 85.000 rupiah/baju batik, dibelikan baju batik dengan kualitas yang di pasaran paling banter harga 40.000 rupiah!
Nggo ngapa Sekolah!; Kalau anak-anak kita hanya akan dijadikan 'tikus-tikus' percobaan kurikulum!Ramalan bahwa KBK akan menjadi Kurikulum Bakalan Kacau, benar-benar terjadi. Kurikulum Berbasis Kompetensi, ada juga yang menyebut Kurikulum 2004 atau dengan nama apapun, semula hanya berupa uji-coba di beberapa sekolah. Namun semua latah, walau KBK belum ada landasan hukumnya (berupa peraturan Menteri seperti lazimnya), hampir semua sekolah ber-KBK-ria. Tak peduli apakah guru-gurunya mudheng atau belum, tak peduli apakah kondisi sekolah sudah siap atau belum, pokoknya KBK. Kalau tidak ber-KBK takut dianggap sekolah yang ketinggalan jaman. Korban dari percobaan bernama KBK, tidak lain adalah murid dan masyarakat. Biaya milliaran rupiah sudah dikeluarkan negara untuk pelatihan guru dan aparatus pendidikan untuk ber-KBK. Belum lagi biaya yang dikeluarkan orang tua murid untuk membeli buku-buku yang berlabel KBK (yang isinya belum tentu sama dengan merk sampulnya). Kabar terakhir Mendiknas telah menanda tangani kurikulum 'baru' bernama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KSTP). Hebatnya KTSP ini harus disusun oleh dua komponen utama : Sekolah (kepala sekolah dan guru) dan Komite Sekolah! Namun (maaf seperti biasanya) kita harus siap mental, kurikulum yang luar biasa ideal ini akan berakhir menjadi : Kurikulum KaTe SiaPe.
Nggo ngapa Sekolah!; Kalau manajemen sekolah sakobere dan sakepenake. Ada yang lucu Mas Bongsor, ini rahasia kita berdua ya... . Para pengawas (di SMP dan SLTA), dulu rekrutmennya untuk pengawas mapel - eh sekarang diberi tugas tambahan menjadi pengawas manajemen (sekolah). Lha wong sebagian pengawas itu belum pernah jadi kepala sekolah dan belum pernah mendapat ilmu manajemen sekolah, lha kok sekarang disuruh mengawasi manajemen sekolah! Apa itu tidak ngawur Mas Bongsor?
Gejala terjadinya proses pembusukan di sekolah kian nyata - dan belum terlihat upaya yang sungguh-sungguh untuk menghenti-kannya - apalagi menyembuhkannya.
Mas Bongsor, saya sangat menghormati pilihan dan keberanianmu : untuk tidak sekolah!Ya Mas Bongsor, kamu sama sekali tidak wajib sekolah. Pemerintah tidak pernah mewajibkan warga negaranya untuk sekolah - namun belajar! Wajib belajar! Dan tidak seorangpun berhak memaksamu untuk sekolah!Dan belajar bisa dimana saja, kapan saja - tidak harus di sekolah! Tidak sekolah sama sekali tidak masalah! Yang penting ciptakan budaya belajar. Tidak masalah kamu tidak sekolah - tapi tetaplah belajar, dimanapun kamu berada. Teruslah belajar dari kehidupan. Jadilah manusia pembelajar! (d_224@plasa.com)

3 Comments:

Anas said...

kayane pancen bener, sekolah adalah tempat dimana hasil-hasil akademik didewa-dewakan. kalau akademiknya bagus, berarti anak pinter, kalau hasil akademiknya jelek, berarti anak bodoh.
sebagai bukti dan peran serta saya dalam rangka "berontak" dari sistem tersebut, saya tetep sekolah, bahkan kuliah hingga lulus S-1. tapi sejak saya lulus s-1 tahun 2004 yang lalu hingga kini, saya tidak tahu berapa nilai akademis saya, karena memang ijasah TIDAK saya ambil.
ingin rasanya saya membuktikan bahwa, tanpa ijasah dari sekolah saya bisa hidup lebih baik.
Belajar memang tidak harus disekolah, dimanapun kita bisa sekolah.
HIDUP JUGA MERUPAKAN SEKOLAH... YA SEKOLAH KEHIDUPAN....

Anonymous said...

Kecerdaan emosi berupa : integritas; kejujuran; komitmen; visi; kreatifitas; ketahanan mental; kebijaksanaan; keadilan; prinsip kepercayaan; penguasaan diri atau sinergi, itu tugas moril guru karena di kurikulum hanya tersirat, kalau itu semua bisa ditularkan ke murid saya yakin bahkan korupsi berjamaah disemua lini dapat berkurang dengan sangat cepat.

Majlis SAKOBERE said...

Nah, kuncinya adalah peningkatan 'mutu' guru dulu, melalui : rekrutment guru yang baik (artinya cari bibit guru yang bagus-bagus), dididik dan dilatih dengan baik (LPTK-nya baik), diperlengkapi dengan baik (artinya ngajarnya tidak cuma talk and chalk), ... dan juga dibayar dengan baik (layak) he ... he ...

 
©  free template by Blogspot tutorial