14 May 2012

Ada duka di Wibeng, Membuat Resah

Gombong - orasakobere.

"Pokoknya asal mau sama mau gak masalah kok"
Akta menegakkan telinga.
"Eh, tapi harus tahu trik-trik jitunya. Jangan sampai hamil, dan kena penyakit kelamin. Gawat kan kalo kita kena gituan?".
"Eh, ini nih ...ada cara praktis yang manjur. Udah banyak yang ngebuktiin"
........
Kutipan dialog di atas tertera di halaman 93 buku berjudul Ada duka di Wibeng, karangan Jazimah Al Muhyi, terbitan Era Adi Cipta Media. Buku ini merupakan salah satu buku yang didrop ke SD-SD di kabupaten Kebumen dari proyek DAK Perpustakaan 2010. Isi sebagian buku ini menjadi pembicaraan hangat di jejaring sosial facebook. Seorang guru SD di Kebumen mengaku resah dengan sebagian isi buku ini. "Meski penggalan cerita itu merupakan bagian awal sebuah pesan yang baik, tetap saja rangkaian kalimat itu menjadi sesuatu yang membuat bulu kuduk kita merinding" tulisnya dalam status. Seorang guru lain mengungkapkan keprihatinannya : ngelus dhadha, yang nulis mestinya belajar mengenal dunia bocah dulu ...
Beruntung buku ini segera diketahui, dan seorang Pengawas SD telah mengirim pesan singkat kepada para kepala SD agar buku tersebut diamankan dan tidak dipajang di perpustakaan.

10 Comments:

Anonymous said...

bagus, selamat buat penyaring buku. semoga sukses

Raihan Marie Ramadhan said...

Sebegitu parahnya sop dunia pendidikan kita. Makasih sudah sharing,happy blogging.

Anonymous said...

Sebelum menulis postingan ini, apakah pemilik atau pengelola blog sudah membaca dan mencermati buku serial Akta ini?
Atau hanya mendengar ceritanya dari orang lain/blog lain?
Di sampul buku tersebut tertulis dengan jelas For Teenager (untuk belasan tahun/SMP-SMA) di sisi kiri bawah.
Cerita tersebut juga tentang si AKTA anak SMA Wibeng, buka anak SD.
Kalau mau mencari siapa yang salah, kenapa tidak tanya kepada guru-guru SD yang bersangkutan?
Kenapa mereka tidak menyeleksi buku yang hendak dibeli atau dipinjamkan di perpustakaan?
Tak mungkin kan penulis mengawasi peredaran buku yang ditulisnya.
Silakan baca ulasan Afifah Afra, salah seorang rekan penulis Jazimah di sini

Mizuki-Arjuneko said...

Saya sudah pernah membaca buku ini dan merasa tidak bermasalah. Kenapa? Karena saya membacanya saat SMA! Kalau dicermati buku ini justru adalah oase bagi remaja yang dicekoki novel-novel yang berisi pergaulan bebas (pacaran dan sebagainya)

Buku ini adalah novel dakwah islam untuk REMAJA. Di pojok buku juga sudah jelas kan? Jika distribusinya ngawur, apakah penulis yang disalahkan?

Maaf jika terdengar emosi. Buku ini termasuk buku yang memberi saya pencerahan saat masih SMA. Harap dimaklumi

Mizuki-Arjuneko said...

Maaf, sebelum menyebarkan berita, harap konfirmasi dan selidiki dulu. Karena jika dicermati, di pojok buku ini ada tulisan bahwa buku ini untuk REMAJA!

Dan bagi remaja novel ini justru memberikan pencerahan di tengah gempuran novel lokal/luar negeri yang isinya tentang pacaran, pacaran, dan sex (simak saja Twilight dkk)

Miftahul Khoir said...

Khusus buku Ada Duka di Wibeng, itu adalah fitnah kalau disebut porno. Yang lain saya tidak tahu, karena belum baca.
Alasannya adalah:
1. Jelas-jelas di cover buku itu ditulis "for teeager", ini adalah salah distributor dan pejabat pengadaan di Diknas yang bego. Gak bisa membuat kualifikasi yang sesuai. Saya mantan pejabat pengadaan, hal kayak gini biasanya murni karena motif uang, kualitas atau konten belakangan. Hasilnya, ya itu tadi buku untuk remaja disebar ke anak SD.
2. Yang banyak dikutip adalah sebuah percakapan di toilet, isinya seperti ini:

"Pokoknya, asal mau sama mau, gak masalah, kok."
Akta menegakkan telinga.
"Eh, tapi harus tahu trik-trik jitunya. Jangan sampai hamil, juga kena penyakit kelamin. Gawat kan kalau sampai kena gituan."
"Eh, ini nih... ada cara praktis yang manjur. Udah banyak yang ngebuktiin!"
"Mana ... mana?"
"Eh, katanya sperma itu..."
"Nah, di majalah ini dikatakan, sel telur itu kalau ketemu ama sperma...."
"Eh, ada yang asyik punya, nih. Petunjuk dengan pakai KB kalender!"
==============================
Kutipan berhenti di situ, padahal ada kelanjutannya yang sangat menjelaskan SIKAP si tokoh malah sengaja di buang, kelanjutan itu adalah sebagai berikut:
==============================
Akta berlalu dengan cepat mendengar obrolan di lokasi kamar mandi yang diselingi suara cekikikan. Suara-suara perempuan. Akta merasa sangat risi. Kok bisa sih, mereka tidak malu membicarakan masalah semacam itu?

Nah, semoga ini bisa membuat pembaca menilai lebih obyektif, Penulis buku ini adalah wanita sholeh, insyaAllah.

Anonymous said...

INI QUOTES LENGKAPNYA:

"Pokoknya, asal mau sama mau, gak masalah, kok."
Akta menegakkan telinga.
"Eh, tapi harus tahu trik-trik jitunya. Jangan sampai hamil, juga kena penyakit kelamin. Gawat kan kalau sampai kena gituan."
"Eh, ini nih... ada cara praktis yang manjur. Udah banyak yang ngebuktiin!"
"Mana ... mana?"
"Eh, katanya sperma itu..."
"Nah, di majalah ini dikatakan, sel telur itu kalau ketemu ama sperma...."
"Eh, ada yang asyik punya, nih. Petunjuk dengan pakai KB kalender!"
Akta berlalu dengan cepat mendengar obrolan di lokasi kamar mandi yang diselingi suara cekikikan. Suara-suara perempuan. Akta merasa sangat risi. Kok bisa sih, mereka tidak malu membicarakan masalah semacam itu?


Pada kover buku, tulisan "For Teenager" terlihat jelas, memperlihatkan bahwa buku ini memang ditulis khusus untuk remaja. BUKAN UNTUK SD. Serial Akta memang bercerita tentang seorang remaja bernama Akta dan sekolahnya, SMA Widya Bangsa yang dipelesetkan menjadi WIBENG. Diceritakan bahwa WIBENG adalah sebuah SMA yang dipenuhi dengan remaja-remaja 'alay' dengan pergaulan yang kacau-balau, dan Akta berusaha untuk mengubah suasana tersebut sebisanya.

Anonymous said...

sebagai orang awam, dan sebagai orang tua (anak saya masih ada yang di SD), saya haqqul yakin akan iktikad baik sang penulis. Masalahnya :
1. Buku ini beredar di perpustakaan SEKOLAH DASAR;banyak orang berpendapat narasi (lengkap) semacam itu TIDAK COCOK untuk anak usia SD,bahkan sebagian orang berpendapat narasi itupun tidak cocok untuk anak usia SMP sekalipun.
2. Bagaimana bisa buku berlabel FOR TEENAGER bisa nyasar (baca diloloskan oleh Dinas Pendidikan Kebumen) di perpustakaan SD melalui DAK Pendidikan?

Kalau ada yang bilang buku ini buku porno memang ngawur (dan di blog ini tidak dikatakan ini buku porno; tapi yang jelas buku ini bukan buku seri pendidikan seks ...)

Anonymous said...

coba cermati segala masalah dr banyak sisi,, kadang tulisan bisa bkin emosi,,

Anonymous said...

Siaran Pers
Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena
tentang
PENARIKAN BUKU-BUKU YANG DITUDUH BERMUATAN PORNOGRAFI
 
Beberapa hari terakhir ini berbagai media, baik cetak, on-line , dan televisi, memberitakan  penarikan buku-buku yang dilaporkan bermuatan pornografi dan kekerasan dari perpustakaan-perpustakan Sekolah Dasar di beberapa daerah. Judul-judul buku tersebut adalah: Ada Duka di Wibeng (penulis: Jazimah Al-Muhyi), Tidak Hilang Sebuah Nama (penulis: Galang Lufityanto), Tambelo: Kembalinya Si Burung Camar (penulis: Redhite K.), Tambelo: Meniti Hari di Ottawa (penulis: Redhite K.), Syahid Samurai (penulis: Afifah Afra), Festival Syahadah (penulis: Izzatul Jannah), dan Sabuk Kiai (penulis: Dadang A. Dahlan).
 
Terkait dengan buku Ada Duka di Wibeng, Tidak Hilang Sebuah Nama, Syahid Samurai , dan Festival Syahadah, ditulis oleh anggota Forum Lingkar Pena (FLP). FLP adalah organisasi pengaderan penulis yang sejak awal pembentukannya pada tahun 1997 memiliki visi mencerahkan masyarakat melalui tulisan. Dalam menulis berbagai karya, para anggota FLP memiliki sikap untuk tidak menulis karya yang membawa pada kemudharatan. Para anggota FLP juga ada di garda depan dalam menolak segala bentuk karya yang bermuatan pornografi.
 
Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP melihat telah terjadi distorsi dan penyesatan dalam kasus penarikan buku ini.
 
Distorsi pertama , bahwa persoalan bukan pada isi buku, tetapi pada distribusi buku-buku tersebut sehingga masuk ke perpustakaan Sekolah Dasar dalam hal ini melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) 2010 sebagaimana pemberitaan yang beredar luas. 
 
Dalam hal peredaran dan distribusi buku dalam proyek pemerintah, persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya adalah LOLOS PENILAIAN Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.  Buku-buku tersebut sudah lolos penilaian dengan Surat Keputusan (SK) yang menyatakan layak untuk dijadikan referensi dan tercetak di belakang sampul buku. Sehingga dari sisi kelayakan-bacanya telah dijamin oleh lembaga yang berwenang.
 
Jika kemudian buku-buku yang layak baca dan dijamin oleh lembaga yang berwenang dan memiliki kredibilitas seperti Pusat Kurikulum dan Perbukuan, kemudian secara konten dituduh tidak layak bahkan porno. Ada persoalan yang perlu diteliti dengan lebih mendalam terkait distribusi buku-buku tersebut sehingga tiba di Sekolah Dasar.
 
Distorsi kedua adalah pemberitaan media yang tendensius . Hampir semua berita di media, baik cetak, on-line , maupun televisi, dilakukan tanpa ada check dan balance . Jurnalis media tidak meminta pendapat pakar dan menelan mentah-mentah pernyataan dari beberapa sumber berita, yang kami sinyalir tidak (belum) membaca buku-buku tersebut secara menyeluruh. Beberapa istilah dalam buku (yang sesuai konteks cerita) disimpulkan sebagai istilah porno, kemudian langsung menuduh buku-buku tersebut adalah buku porno. Terlihat juga kurang pahamnya media terhadap defenisi pornografi.
 
Distorsi ini menurut kami sangat mengkhawatirkan, karena bila tidak diluruskan maka akan terjadi fitnah, pembunuhan karakter (terhadap penulis), juga pembalikkan akal sehat. Di satu sisi kita melihat semakin banyak karya, baik buku juga tontonan yang jelas-jelas bermuatan pornografi dan vulgar, tetapi seakan tak tersentuh. Buku-buku FLP yang mengajak masyarakat, terutama remaja, kepada kebaikan, malah dituduh sebagai buku porno.
 
Semoga kasus ini menjadi titik untuk membereskan mekanisme dan distribusi buku-buku proyek DAK. Sekaligus, dan sekali lagi, penolakan terhadap karya bermuatan pornografi, yang selama ini telah sering disuarakan oleh FLP. Semoga siaran pers ini dapat mengklarifikasi banyak hal.
 
Jakarta, 13 Juni 2012.
 
Setiawati Intan Savitri                                                             Rahmadiyanti Rusdi
Ketua Umum BPP FLP 2009-2013                            Sekretaris Jenderal BPP FLP 2009-2013

 
©  free template by Blogspot tutorial