Bila ketika menuju pantai jalan cenderung menurun, maka ketika kembali tentu saja jalan akan menanjak. Maka siapkanlah fisik dan atur nafas sebaik mungkin. Berikut foto-foto saat kami berkunjung ke Pantai Karang Agung, rabu 11 Pebruari 2015 lalu. (Selamat berwisata.
15 February 2015
Pantai Karang Agung nan Eksotik
Bila ketika menuju pantai jalan cenderung menurun, maka ketika kembali tentu saja jalan akan menanjak. Maka siapkanlah fisik dan atur nafas sebaik mungkin. Berikut foto-foto saat kami berkunjung ke Pantai Karang Agung, rabu 11 Pebruari 2015 lalu. (Selamat berwisata.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 2/15/2015 02:18:00 PM 0 komentar
Berita, Dolan
17 November 2012
Antara Program 'Study Tour' dan 'Live In'
Dalam rangka mengisi sisa waktu, sekaligus mengganti kegiatan praktikum saya mencoba mendorong dan menugasi anak-anak XI IPA untuk melakukan 'penelitian sederhana' berkait materi kimia. Selain itu proses perencanaan, pelaksanaan, hingga laporan dan presentasi hasil peneilitian akan saya gunakan untuk mengisi nilai psikomotor dalam raport.
Namun saya mendapati kenyataan bahwa anak-anak belum pernah diberikan materi bagaimana melakukan 'penelitian sederhana', dan bagaimana menulis laporan, sehingga sebisa mungkin saya memberikan sepintas apa dan bagaimana itu membuat 'penelitian sederhana'.
Menurut saya melatih anak-anak menggunakan metoda ilmiah adalah sesuatu yang sangat penting, bahkan mendasar bagi seorang pembelajar. Latihan ini akan membuat anak-anak terasah logika dan inovasinya, disamping itu juga membuat anak-anak menjadi memiliki sikap obyektif, teliti, tangguh, dan jujur.
Lebih duapuluh tahun lalu, ketika saya mengabdi sebagai guru tidak tetap di sebuah SMA swasta di Gombong, saya pernah 'melakukan sesuatu' berkait fenomena study tour dan program live in ini (Silahkan anda bisa baca berikut ini).
....
Kisah duka dari dunia pendidikan kembali berulang. NES (14) siswa kelas II (Kelas VII - Red) di SMP Muhammadiyah Playen, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Selasa (22/5) sekitar pukul 14.00, nekat mencoba bunuh diri. Tindakan tersebut dipicu perasaan malu lantaran yang bersangkutan belum melunasi biaya karyawisata yang diadakan pihak sekolah ke Cilacap, Jawa Tengah.
Kini NES masih menjalani perawatab di RSUD Wonosari, Gunung Kidul. Menurut ibu kandungnya, Pujiantini (40), meski kesehatannya sudah berangsur membaik, kondisi fisik NES masih tampak lemah.
Pujiantini menduga tindakan nekat yang ditempuh NES berkaitan erat dengan rencana karyawisata yang dilaksanakan pihak sekolah anaknya pada 27 Mei mendatang. Menurut Pujiantini hingga selasa lalu anaknya belum bisa membayar biaya karyawisata senilai Rp 155.000. Padahal, pihak sekolah memberi batasan waktu hingga Jum’at pekan lalu.
“Kepala sekolah sebenarnya tidak terlalu memaksa, tetapi panitia mengejar-ngejar supaya lekas membayar” ujarnya.
NES sendiri, Sabtu pekan lalu, sempat dipanggil pihak sekolah. Kepada pihak sekolah, NES berjanji akan melunasi pembayaran pada hari Senin. Namun, karena belum mendapat uang, pada Senin dan Selasa ia tidak masuk sekolah.
Sukarno, Kepala SMP Muhammadiyah Playen, mengatakan, karyawisata tersebut bukan kegiatan wajib. Ada beberapa siswa yang juga merasa keberatan karena alasan ekonomi. Lagi pula, katanya, pembayaran kegiatan yang direncanakan sejak awal tahun tersebut sebenarnya dapat diangsur.
“Mereka tidak diwajibkan membayar dengan catatan benar-benar tidak mampu. Ada beberapa orangtua siswa yang datang ke sekolah untuk meminta keringanan. Hal itu ternyata tidak dilakukan pihak keluarga korban” ujar Sukarno.
(KOMPAS, Kamis, 24/05/2007)
Membaca berita di atas, saya teringat kejadian beberapa puluh tahun lalu. Tepatnya tahun 1988, saat saya baru lulus sekolah guru, dan mulai mengabdi menjadi guru tidak tetap (GTT) di sebuah SMA swasta di kota Gombong. Kala itu saya masih tinggal bersama orang tua di Puring.
Suatu sore sekitar jam 15-an, saya nongkrong di Warung Bi Dirah, warung di prapatan depan rumah, tempat saya biasa ngopi dan ngobrol dengan beberapa teman.
Tengah asyik ngobrol, datang seorang laki-laki paruh baya mengendarai pit onthel lanang, dengan keranjang di kiri-kanan tersangkut di boncengan sepeda.
Sambil masuk warung, lelaki itu memesan : “Sega jangan Yu, karo kopi”.
Walau tidak kenal, sayapun berusaha ramah dan menyapa lelaki itu : “Saking pundi Kang?”.
“Lah niki, saking Gombong, mbeta gori, ning kalih mampir-mampir dados tekan sonten” jawab lelaki itu.
“Mampir saking pundi si?”
“Golet butuh Mas, ajeng kalih adol pit ujare kula, ning mboten onten sing ngenyang” jawabnya sambil nyeruput kopi yang sudah tersaji.
“Lhah, deneng si pite diedol, lha ngenjang sampeyan olihe mbeta gori teng Gombong si kepripun? Ajeng kangge napa si duite?” saya mencoba mengorek keterangan.
“Ajeng ngge mbayar studi tour anake kula teng Jakarta” jawabnya lagi.
“Putrane sekolah teng pundi si?” Tanya saya lagi.
“Teng SMA Purnama Gombong”.
Jawaban terakhir lelaki setengah baya ini membuat saya tercekat. Betapa tidak, SMA Purnama adalah sekolah dimana saya mengajar!
Malam harinya saya menjadi sulit tidur, bukan karena minum kopinya Bi Dirah, tapi memikirkan lelaki yang hendak menjual pit onthel, alat produksi dan alat transportasinya itu, untuk membayar biaya study tour anaknya. Pertanyaan dan bayangan memenuhi otak. Bagaimana lelaki itu besok mengangkut gori ke Pasar Gombong tanpa pit onthel (kala itu belum ada angkot seperti sekarang), Apakah hasil penjualan pit onthel butut itu mencukupi untuk membayar biaya study tour?
Tahun 1989, dengan dukungan beberapa guru, saya merintis dan mendirikan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), beranggotakan sekitar 30-an murid, yang dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, 5 hingga 10 siswa. Kegiatan outdoor pertama adalah melakukan ‘penelitian lapangan’ di Desa Srati Kecamatan Ayah, meneliti penggunaan obat gula sebagai zat additif (zat tambahan pada makanan) pada proses pengolahan gula jawa, dan di Pantai Karangduwur meneliti biota laut.
Penelitian lapangan mengambil waktu tiga hari, dengan pembagian hari pertama dan kedua melakukan penelitian dan hari ketiga melakukan bhakti masyarakat.
Selang sebulan kami melaporkan program KIR sekaligus hasil penelitian kepada kepala sekolah dan memaparkannya di forum guru.
Kami menawarkan pada forum agar program penelitian lapangan ini dijadikan pengganti study tour. Dan alhamdulillah kepala sekolah dan para guru setuju.
Dan sejak saat itu, tiap tahun hingga tahun 1995, saat saya melepas status GTT, SMA Purnama mengadakan ‘Penelitian Lapangan’, sebagai pengganti program study tour.
Berdasarkan pengalaman membimbing ‘Penelitian Lapangan’, program ini memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan program study tour, yaitu :
- Murah. Biaya yang dibutuhkan jauh lebih murah dibandingkan study tour. Komponen biaya transportasi dari sekolah (di Gombong) ke lokasi penelitian di Srati Ayah (misalnya), murah dan bahkan bisa ngecer. Juga komponen biaya makan, biasanya kami minta tolong Pak Kades atau salah satu penduduk, atau warung di desa untuk menyiapkan makan dan minum peserta selama di desa. Ini jelas jauh lebih murah ketimbang makan di restoran atau hotel dalam program study tour. Biaya penginapan? Nol. Sepanjang pengalaman belum pernah ada seorangpun Kades atau penduduk yang meminta biaya untuk penginapan anak-anak ‘peneliti’ ini.
- Membumi dan Beragam. Program ‘Penelitian Lapangan’ di desa-desa lebih membumi, karena subjek penelitian adalah subjek yang ada di desa-desa, dan merupakan persoalan riil desa. Di lain sisi, siswa peserta penelitian menjadi lebih mengenal dan memahami persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Siswa yang menyukai IPA bisa meneliti serangga yang hidup pohon-pohon, atau meneliti tentang zat aditif makanan yang digunakan pada masakan masakan ‘ndesa’, seperti daun salam, laos, kencur, tumbar. Sementara yang menyukai ilmu-ilmu sosial dapat meneliti tentang berbagai sistem dan persoalan pemerintahan desa, meneliti kesenian tradisional semacam ebleg sampai samroh, dan sebagainya. Alhasil, tema atau topik penelitian yang dituangkan dalam karya tulis siswa menjadi sangat beragam. Jauh berbeda dengan karya tulis siswa hasil study tour yang nyaris seragam, dan bahkan merupakan copy paste brosur-brosur yang diberikan oleh objek-objek study tour yang dukunjungi. Disamping itu, siswa peserta penelitian bisa merasakan denyut nadi masyarakat desa. Sebagian dari siswa bahkan ikut ndaut dan tandur di sawah.
- Ilmiah. Program ‘Penelitian Lapangan’, sesuai namanya, mengedepankan dan mengasah metoda ilmiah : mulai mengidentifikasi permasalahan, menyusun hipotesa, hingga mengambil kesimpulan, bahkan menyodorkan berbagai alternatif solusi. Pada penelitian zat aditif pada pembuatan gula jawa misalnya, ‘para peneliti muda’ ini mengajukan Natrium benzoat sebagai zat aditif yang lebih aman untuk menggantikan Natrium bisulphit.
Sayangnya program model ‘Penelitian Lapangan’ ini sering dianggap terlalu serius, sehingga tidak disukai kebanyakan siswa. Pun program ini tidak disukai oleh sebagian guru dan kepala sekolah, karena program ini tidak memungkinkan panitia atau guru-guru tertentu beroleh keuntungan materi, selain honor membimbing. Berbeda dengan program study tour. Telah menjadi rahasia umum bahwa pihak biro perjalanan biasanya menyediakan fee untuk kepala sekolah dan atau untuk panitia study tour, yang angkanya sangat menggiurkan. Hal di atas hanyalah salah satu alternatif yang bisa dikembangkan di sekolah-sekolah. Masih banyak model lain yang dapat dikembangkan oleh sekolah agar siswa kita lebih mengenali lingkungan dan bisa ikut merasakan denyut nadi persoalan masyarakat dan bangsanya.
Beberapa sekolah terlihat sering mengajak siswa-siswanya ke stasiun kereta api melihat bagaimana petugas mengatur perjalanan kereta api, juga ke DPRD melihat bagaimana cara anggota DPRD bersidang dan mengambil keputusan, atau ke kantor pos, ke kantor polisi, ke lembaga pemasyarakatan, ke pengadilan, dan ke berbagai tempat lain lagi.
Sebenarnyalah hal demikian sudah diketahui dan dipahami oleh sebagian besar kepala sekolah dan guru. Hanya sayangnya, terkadang masih saja ‘alasan-alasan nonkependidikan’ yang justru mengedepan dan mengemuka membutakan akal budi dan nurani.
(Juli 2007)
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 11/17/2012 09:57:00 AM 1 komentar
13 October 2012
SMA N 1 Gombong 'Tolak' Menjadi RSBI
SMA Negeri 1 Gombong menyatakan 'menolak' peningkatan status menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Ihwal ketidaksetujuan menjadi RSBI terungkap dalam pertemuan guru dan karyawan SMA Negeri 1 Gombong dengan Tim Monitoring dan Evaluasi (Assesor) dari Direktorat Pembinaan SMA Kemdikbud, Kamis 11 Oktober 201. Berdasarkan hasil sementara monev yang dilaksanakan selama dua hari, dinyatakan bahwa SMA Negeri Gombong dinyatakan telah memenuhi 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 10/13/2012 07:52:00 AM 0 komentar
UKG Tahap II, Relatif Lebih Lancar
Dibanding dengan pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) Online Tahap I yang semrawut dan banyak mengalami kegagalan koneksi, pelaksanaan UKG Tahap II dinilai banyak pihak relatif lebih lancar. Beberapa perbaikan telah dilakukan oleh penyelenggara, diantaranya adanya penambahan tempat pelaksanaan UKG di beberapa wilayah. Untuk Kabupaten Kebumen terbagi dalam 20 tempat penyelenggara UKG. Hal ini memudahkan peserta UKG Online Tahap II yang berasal dari wilayah barat kabupaten Kebumen, tidak perlu berbondong-bondong pergi ke Kebumen. Pelaksanaan UKG Online yang terpantau di SMA Negeri 1 Gombong misalnya, semua peserta bisa 'connect' dengan lancar.UKG Online Tahap II di kabupaten Kebumen diwarnai diskusi hangat diantara peserta ihwal prosentase 'kelulusan' UKG yang masih rendah. Diskusi juga melebar berkait dengan kriteria kelulusan dan tindak lanjut UKG yang belum jelas. Dalam buku pedoman UKG yang dikeluarkan Kemdikbud, jelas dinyatakan bahwa UKG merupakan pemetaan komptensi guru, dan tidak ditemukan kriteria tentang lulus atau tidak lulusnya peserta UKG. Namun berkembang issue diantara peserta UKG bahwa batas kelulusan adalah 70. Bagi Bapak/Ibu Guru yang membutuhkan latihan soal kompetensi pedagogik dan buku Pedoman UKG, bisa diunduh di link sidebar kiri bawah blog ini, dan bagi Bapak/Ibu yang ingin melihat daftar peserta UKG bisa dilihat di website ukg.kemdikbud.go.id/peserta. .
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 10/13/2012 07:23:00 AM 0 komentar
27 September 2012
Tiang Penyangga Retak

Kualitas bangunan yang rendah ternyata bukan monopoli bangunan milik pemerintah seperti yang selama ini disinyalir banyak orang. Bangunan yang dikerjakan oleh komite sekolah rupanya ada yang berkualitas rendah. Hal ini terjadi di salah satu sekolah terkenal di kota Gombong. Tiang penyangga tangga bangunan dua lantai ini retak dan menggantung. Tiang penyangga yang sesuai namanya semestinya berfungsi untuk menyangga nyaris tidak berfungsi.Menurut Skep Mendiknas 044/U/2002 Tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, komite sekolah memiliki peran mengontrol, memberi advis, memberi dorongan, dan menjadi mediator - bukan justru menjadi pelaksana.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 9/27/2012 09:13:00 AM 0 komentar
02 September 2012
Dua Bulan Lebih Waktu Untuk Urus KK
Lanjut membaca “Dua Bulan Lebih Waktu Untuk Urus KK” »»
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 9/02/2012 07:12:00 AM 1 komentar
Berita, Anak
14 May 2012
Ada duka di Wibeng, Membuat Resah
"Pokoknya asal mau sama mau gak masalah kok"Akta menegakkan telinga.
"Eh, tapi harus tahu trik-trik jitunya. Jangan sampai hamil, dan kena penyakit kelamin. Gawat kan kalo kita kena gituan?".
"Eh, ini nih ...ada cara praktis yang manjur. Udah banyak yang ngebuktiin"
........
Beruntung buku ini segera diketahui, dan seorang Pengawas SD telah mengirim pesan singkat kepada para kepala SD agar buku tersebut diamankan dan tidak dipajang di perpustakaan.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 5/14/2012 11:49:00 AM 10 komentar
09 May 2012
Disinyalir Ada Penyimpangan Bantuan Rehab Ruang Kelas
Lebih jauh Tim Independen juga merekomendasikan Dewan Pendidikan Kabupaten Kebumen agar mengambil sikap terhadap perbuatan oknum Dewan Pendidikan yang telah nyata-nyata melakukan perbuatan yang mencemarkan institusi dan tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Dewan Pendidikan Kabupaten. Kepada pihak Kejaksaan Negeri Kebumen Tim Pengawas meminta agar mengambil sikap preventif.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 5/09/2012 12:36:00 PM 0 komentar
27 February 2012
Harapan Kebumen di UN 2012
SMP beroleh peringkat 33 (dari 35 kabupaten kota) dengan membukukan rata-rata 27,70
SMA IPA beroleh peringkat 28 dengan membukukan rata-rata 46,92
SMA IPA beroleh peringkat 23 dengan membukukan rata-rata 46,02
SMK beroleh peringkat 19 dengan membukukan rata-rata 31,51.
Sudah sewajarnya berbagai pihak, mulai dinas pendidikan, sekolah, guru, orangtua, dan masyarakat bahu membahu mengupayakan perbaikan prestasi Ujian Nasional di semua jenjang.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 2/27/2012 07:15:00 AM 0 komentar
Berita, Berita Pendidikan
04 February 2012
SKB 5 Menteri, Lonceng Kematian Untuk GTT di Sekolah Negeri
Lebih jauh dalam Petunjuk Teknis Surat Keputusan Bersama (SKB) ini mengatur, bagi guru yang tidak dapat memenuhi kewajiban mengajar harus mencari sekolah lain, atau alih tempat tugas, baik sesama jenjang, antar jenjang, bahkan antar kabupaten/kota. Dampak lebih jauh, banyak Guru Tidak Tetap (GTT) yang mengabdi di sekolah negeri terpaksa harus 'dilucuti' jam mengajarnya dan dialihkan kepada guru PNS.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 2/04/2012 09:30:00 AM 0 komentar
Berita, Berita Pendidikan
20 December 2011
Naim : Jujur ... memang sangat berat
Di waktu atau jaman sekarang menjadi orang jujur memang sangat berat. Orang jujur di jaman sekarang adalah barang langka, bahkan dianggap orang bodoh. Demikian dikatakan Drs. Muh. Naim, Msc., di hadapan para guru SMA Negeri 1 Gombong, dalam pengantarnya dalam In House Training (IHT) senin 19 Desember 2011. Naim yang diundang dalam IHT dalam rangka implementasi pendidikan karakter, dan pengembangan keunggulan lokal di SMA Negeri 1 Gombong.
IHT direncanakan berlangsung hingga hari selasa, 20 Desember 2011. Target IHT diharapkan para guru dapat membuat SD/KD, silabus, dan RPP bermuatan pendidikan karakter.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 12/20/2011 08:19:00 AM 1 komentar
Berita, Berita Pendidikan
02 December 2011
Angka Kekerasan Terhadap Anak Masih Tinggi
Sementara Program Unit Manager Plan PU Kebumen, Amirudin, menyatakan dalam sambutannya mengapresiasi perkembangan perlindungan anak di Kebumen. "Di Kebumen 40% desa bisa terapkan perlindungan anak berbasis masyarakat, juga telah ada anggaran untuk mengatasi masalah-masalah perlindungan anak di APBD" ujar Amirudin. Namun Amirudin juga mengakui bahwa masalah berkait anak sangat kompleks.
Diposting oleh Majlis SAKOBERE di 12/02/2011 04:58:00 PM 0 komentar
Berita, Anak


