20 June 2008

MOS (Masa Orientasi Siswa) TANPA KEKERASAN


Kebumen - Lanthing.

Ciptakan MOS (Masa Orientasi Siswa) Tanpa Kekerasan. Demikian jargon Majlis SAKOBERE menyikapi datangnya tahun pelajaran 2008/2009. Jargon ini diterakan pada T-Shirt yang dibagikan pada para peserta Semiloka bertajuk : Kebijakan Perlindungan Anak di Sekolah. Semiloka yang digelar pada 18 s.d. 19 Juni 2008 di MTs Negeri 1 Kebumen, Jl. Tentara Pelajar No. 29 Kebumen, menghadirkan Dra. Nurrohmah, D.I.H, Psikolog yang membawakan paparan Pendidikan yang Humanis. Juga Drs. H. Dawamudin Masdar, kepala MTs Negeri 1 Kebumen dengan paparan ihwal anak dan perlindungannya menurut Islam, dan dari Plan PU Kebumen Sri Djoko Yunanto yang memaparkan tentang Hak Anak, Pendidikan Inklusi, dan SIP (School Improvement Program).

Hari kedua peserta yang terdiri dari berbagai komponen, termasuk perwakilan anak dari berbagai sekolah, mencoba membuat pemetaan tentang situasi perlindungan anak di sekolah. Sesi ini disambut antusias oleh peserta. Terjadi diskusi hangat dan alot ketika masing-masing kelompok menyampaikan paparan, khususnya ketika pemaparan menyangkut masih adanya indikasi tindak kekerasan di sekolah. “Sekolah kami ini semi militer sehingga hukuman fisik adalah hal biasa dan kami anggap wajar saja” ungkap seorang siswa dari SMKN 1 Puring (jurusan Ilmu Pelayaran). Namun pernyataan siswa ini dibantah sendiri oleh guru Bimbingan Konseling dari sekolah yang sama “Saya perlu meluruskan, bahwa istilah semi militer di sekolah kami itu tidak ada, itu hanya istilah dari anak-anak saja”. Namun guru BK ini mengakui bahwa praktik-praktik ‘kekerasan’ model militer ini masih ada, seraya meminta bantuan dari Dewan Pendidikan (merupakan salah satu undangan) agar kekerasan yang sudah sistemik di SMKN 1 Puring bisa dihentikan.

Pada sesi akhir peserta membuat rekomendasi yang ditujukan kepada para pemangku kewajiban dan pemangku kepentingan. (d_224)

Lanjut membaca “MOS (Masa Orientasi Siswa) TANPA KEKERASAN”  »»

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) MASIH TERABAIKAN


Karanganyar - Lanthing.


Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) masih terabaikan, termasuk dalam hal pendidikan. Sinyalemen ini terungkap dalam Sosialisasi Pendidikan Inklusi, Membangun Karakteristik Sekolah Inklusif dan Pembelajaran yang Akrab, di Hotel Candisari Karanganyar (17/06/08). “Bahkan, keluarga yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus cenderung menyembunyikannya di rumah karena dianggap aib keluarga, padahal ABK juga berhak memperoleh layanan pendidikan” ujar ketua KOMPUS (Komunitas Pendidikan Untuk Semua), Dwiantoro. Menurut Dwiantoro, yang juga kepala SD Negeri 2 Logandu Karanggayam, semestinya semua sekolah menjadi sekolah inklusi sejalan dengan SK Mendikbud No. 002/U/1986 Tentang Pendidikan Terpadu Bagi Anak Cacat. Dalam Bab I Pasal 1 dinyatakan bahwa Pendidikan terpadu adalah model penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak cacat yang diselenggarakan bersama anak normal di lembaga pendidikan umum dengan kurikulum yang berlaku di lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Selanjutnya Dwiantoro menjelaskan bahwa berdasarkan evaluasi lima SD pilot sekolah inklusi, muncul kendala yaitu : Lokasi SD yang jauh dari SLB, belum semua guru kelas memahami sekolah inklusi, belum adanya Pembina teknis tingkat kabupaten, dan sikap orang tua yang kurang komunikatif.

Sosialisasi yang difasilitasi Plan PU Kebumen, menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah, Drs. Mulyono, M.Pd., dan Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Kebumen, Agus Purwanto.
Dalam paparannya Drs. Mulyono, M.Pd. menjelaskan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus atau child with special needs, adalah anak yang secara fisik/sensorik, intelektual, social, emosional, dan atau kemampuan komunikasinya menyimpang dari criteria normal secara signifikan sehingga karena penyimpangan tersebut membutuhkan layanan pendidikan khusus (special education).

Sementara itu Agus Purwanto sependapat bahwa semua sekolah semestinya menjadi inklusi, bukan sebaliknya ekslusif. Untuk itulah dirinya mengusulkan agar ada sosialisasi yang massif di masyarakat tentang hak-hak ABK khususnya dalam layanan pendidikan. Setelah sebagian besar masyarakat memahami, maka program-program berkait hak ABK, termasuk layanan pendidikan untuk ABK, dimasukkan dalam musrenbang sehingga memperoleh anggaran yang memadai dalam APBD. (d_224)

Lanjut membaca “ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) MASIH TERABAIKAN”  »»

15 June 2008

Komite Sekolah di Selogiri Tidak Memiliki AD dan ART

Suasana diskusi di pelatihan komite sekolah
SD Selogiri di Benteng Van der Wijck

Gombong - Lanthing
Dari empat Sekolah Dasar di desa Selogiri Kecamatan Karanggayam Kebumen, tidak ada satupun yang memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD dan ART). Kenyataan ini terungkap pada saat Pelatihan Komite Sekolah di Benteng Van der Wijck Gombong, Sabtu dan Minggu (14 s.d. 15 Juni 2008). Pelatihan Komite Sekolah dilaksanakan oleh Plan PU Kebumen dengan menghadirkan Wakil Ketua DPK Kebumen Drs. Agus Purwanto selaku fasilitator pelatihan. Seorang staf Plan PU Kebumen, David mengatakan "Komite Sekolah di Karanggayam, khususnya di Selogiri memang baru sebatas formalitas".

Bahkan salah seorang peserta pelatihan bernama Sakirun, tidak tahu bahwa dirinya termasuk anggota komite sekolah, "Tahunya ya setelah saya diberi surat untuk berangkat mengikuti pelatihan ini sehingga ya saya tidak tahu saya harus apa dan bagaimana" ungkap Sakirun lugu.

Pelatihan ini selain menghadirkan anggota komite sekolah, sebenarnya juga mengundang kepala sekolah dan guru, namun tidak dapat hadir karena tengah sibuk mengisi raport.

Sementara wakil ketua DPK, Drs. Agus Purwanto, yang mendampingi pelatihan selama dua hari tidak menampik kenyataan tentang rendahnya kinerja komite sekolah "Demikianlah faktanya. Itu menjadi tantangan kita semua untuk berupaya agar kinerja komite sekolah dapat semakin meningkat. Untuk itulah kami memberi apresiasi yang tinggi kepada Plan Kebumen, karena sebenarnya itu (pemberdayaan komite sekolah - Red) merupakan kewajiban negara" ujar Agus.

Lanjut membaca “Komite Sekolah di Selogiri Tidak Memiliki AD dan ART”  »»

13 June 2008

Workshop Partisipasi Anak dalam Proses Pengambilan Keputusan

Gombong - Lanthing

Dalam proses pengambilan keputusan khususnya yang menyangkut anak, apakah di keluarga, di sekolah, di masyarakat, dan atau di pemerintahan, sadar maupun tak sadar kita sering mengabaikan subjek keputusan, yaitu : anak.
Anak dalam berbagai hal, terkadang masih diposisikan sebagai objek semata. Padahal amanah UU No. 23/2002 Tentang Perlindungan Anak jelas tertera pasal-pasal yang menyangkut hak-hak dasar anak, termasuk hak anak untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.

Guna meningkatkan pemahaman kita tentang apa dan bagaimana partisipasi anak, majlis SAKOBERE bekerjasama dengan Plan PU Kebumen dan CIDA (Canadian International Development Agency) akan mengadakan workshop bertajuk : Partisipasi Anak Dalam Pengambilan Keputusan. Workshop akan diselenggarakan
Senin s.d. Selasa, 23 s.d. 24 Juni 2008 di SMP Negeri 3 Karanganyar Jl. Kesatuan No. 1 Karanganyar.
Output workshop, diharapkan adanya kesepahaman dalam mempartisipasikan anak, dan adanya rumusan dalam mempartisipasikan anak.
Diharapkan dapat hadir para pemangku kepentingan berkait anak : BAPPEDA, LSM, Dinas P dan K, Dewan Pendidikan, Lembaga Pendidikan, dan tidak lupa yang terpenting : ANAK yang diwakili oleh Komunitas Peduli Anak Kebumen (KOMPAK).

Lanjut membaca “Workshop Partisipasi Anak dalam Proses Pengambilan Keputusan”  »»

02 June 2008

Paparan Balon Gubernur : Sukawi Ditanya Kasus Tersangka

Semarang - Lanthing

Sabtu malam minggu, 31 Mei 2008 Pkl. 19.30 s.d. 20.30 bertempat di aula RRI Semarang, berlangsung 'paparan' para calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Jawa Tengah. Acara yang dikemas dalam Forum WW (Forum Wimar Witular), sesuai namanya dipandu langsung oleh Wimar Witular. Tampak hadir komplit pasangan no urut 1 Bambang Sadono - Mohamad Adnan dan pasangan urut 4, Bibit Waluyo - Rustriningsih, sementara tiga pasangan lain hadir tanpa pasangan masing-masing, yaitu : Sukawi Sutarip (pasangannya Sudarto tidak hadir), Kholiq Arif (pasangannya Agus Suyitno tidak hadir), dan Rozaq Rais (pasangannya Tamzil tidak hadir).

Dalam forum interaktif yang disiarkan langsung oleh TVRI Semarang, serta RRI Semarang dan di-relay oleh seluruh RSPD se Jateng ini para calon gubernur Jateng umumnya memberikan paparan mengapa mereka mencalonkan diri dan apa yang hendak dilakukan kalau jadi gubernur esok. Berdasarkan pengamatan kontributor Lanthing, paparan-paparan mereka relatif standar.
Hal menarik muncul ketika Wimar Witular dan audiens bertanya tentang hal-hal spesifik. Ketika ditanya tentang bantuan langsung tunai (BLT) dan kenaikan BBM, Bambang sadono yang kurang setuju terhadap kenaikan harga BBM dan mekanisme penyaluran BLT sempat diingatkan Wimar bahwa yang ngotot menaikkan BBM dan BLT adalah Wapres Yusuf Kalla yang notabenenya adalah Ketua Umum Partai Golkar (Ketuanya Bambang sadono - Red).
Sementara Wimar sempat mengingatkan Bibit Waluyo tentang pencalonannya di DKI dan menanyakan mengapa kini mencalonkan diri di Jateng.
Hal menarik juga muncul ketika audiens menanyakan ihwal status tersangka Sukawi Sutarip. "Saya kira kita harus berpegang pada azas hukum praduga tak tersalah" kilah Sukawi. Hal ini diamini oleh Rustriningsih, yang mengatakan untuk tetap berpegang pada hukum yang berlaku. Pendapat berbeda dilontarkan oleh Rozaq Rais. Menurut adik kandung Amin Rais ini masalah korupsi atau tidak korupsi yang paling tahu adalah diri sendiri, "Tapi Pak Sukawi kan sudah jadi tersangka, jadi sudah ada bau-baunya korupsi" ujar Rozaq Rais.

Selepas acara, Rustriningsih sempat mengunjungi beberapa mahasiswa yang mogok makan menolak kenaikan harga BBM di depan kampus UNDIP.




Lanjut membaca “Paparan Balon Gubernur : Sukawi Ditanya Kasus Tersangka”  »»

29 May 2008

160 Milyar Tidak Terserap di APBD 2007


Gombong - Lanthing

Ditengah kesulitan rakyat yang makin menghimpit, ternyata 160 Milyar rupiah dana APBD 2007 tidak terserap dan harus dikembalikan ke kas daerah. Hal demikian dikatakan Ir. Slamet Marsum (salah seorang anggota Panitia Anggaran DPRD) ketika menjadi narasumber pada lokakarya bertajuk 'Mengawal Dana Pendidikan untuk Masyarakat Miskin' (senin, 26 Mei 2008). Lokakarya yang digelar selama dua hari hingga selasa 27 Mei 2008, berlangsung di Hotel Benteng Van der Wijck Gombong, diselenggarakan oleh Yayasan Bina Insani yang bekerjasama dengan Plan PU Kebumen.
Selain menampilkan Ir. Slamet Marsum, panitia berhasil pula menghadirkan Kepala Dinas P dan K Kab Kebumen, Drs. Mahar Mugiono, S.H. sebagai narasumber.

Menurut Slamet, ketidakmampuan satuan-satuan kerja untuk melaksanakan program yang telah dianggarkan dalam APBD sama dengan menyandera kepentingan rakyat yang tengah dalam kesulitan.

"Wis jegos ora, nggembol duit" kritik politisi dari Partai Golkar ini sengit.
Alasan-alasan yang dikemukakan satker-satker pun kadang tidak masuk akal, ada yang beralasan belum ada landasan peraturannya, ada lagi yang bilang tenaga yang ada di satker tidak cukup, dan alasan-alasan lain yang aneh, imbuh Slamet.
"Kalau memang begitu keadaannya, kenapa minta bahkan berebut anggaran?. Sebelum minta anggaran mestinya satker mengkaji dulu" sesal politisi handal asal Karanganyar ini.

Hal ini diamini oleh Drs. Teguh Supriyadi, seorang pengawas Dinas P dan K. Menurut Teguh, salah satu dana yang tidak terserap di di Dinas P dan K adalah alokasi dana APBD untuk pengadaan raport, yang harus dikembalikan ke kas daerah karena waktu lelangnya tidak mencukupi. Itulah sebabnya MKKS akhirnya membeli sendiri raport-raport yang dibutuhkan untuk murid-murid baru, artinya masyarakat juga yang akhirnya terbebani, ujar Teguh.



Lanjut membaca “160 Milyar Tidak Terserap di APBD 2007”  »»

26 May 2008

BERKAS SERTIFIKASI BEBERAPA GURU HILANG



Karanganyar - Lanthing

Sosialisasi Sertisikasi guru yang dilaksanakan Dinas P dan K di Hotel Candisari Karanganyar (mingggu, 25 Mei 2006) diwarnai gerundelan beberapa guru. Ihwal gerundelan beberapa guru disebabkan berkas sertifikasi mereka yang telah disetorkan ke bagian Tenaga Kependidikan (tendik) hilang tak jelas rimbanya. Guru-guru yang berkas sertifikasinya raib di Dinas P dan K diantaranya adalah milik Drs. Nendro Saputro, Drs. Agus Purwono, dan Drs. Didik Pratomo, ketiganya berasal dari SMAN Karanganyar. Nasib serupa juga dialami oleh Drs. Khamid (Kepala SMAN 1 Kebumen) dan Drs. Bambang Suryono juga dari SMAN 1 Kebumen.

"Lha saya bingung, dinyatakan lulus tidak, disuruh diklat juga tidak ... eh setelah saya tanyakan ke Pak Encep (Bagian Tendik Dinas P dan K Kebumen - Red), katanya berkasnya hilang" ungkap Nendro Saputro.
Kekecewaan senada diungkapkan oleh Dra. Murti Susilowati, guru Matematika SMAN Gombong. "Berkas sertifikasi saya memang tidak hilang, tapi dikembalikan" ujar Murti.
"Saya periode kemarin masuk kuota, yang 7o orang itu. Kemudian saya diminta melengkapi berkas-berkas, tapi ternyata oleh Dinas P dan K tidak diusulkan ke UNY ..eh malah yang tidak masuk daftar kuota, seperti Bu Yeni, malah ikut diusulkan ke UNY (Universitas Negeri Yogyakarta - Red)" tambah Murti.

Beberapa guru yang mengikuti sosialisasi juga mengeluhkan tentang mepetnya waktu penyerahan berkas sertifikasi yang hanya tiga hari sejak sosialisasi dirasa tidak cukup.
"Lha wong untuk menjilid dengan hard cover saja butuh waktu tiga hari, belum proses legalisasi dan lain-lain. Tidak masuk akal!" ungkap beberapa guru sambil membandingkan di kabupaten Purworejo dan Temanggung yang sosialisasinya sudah sejak bulan april, sehingga ada waktu yang memadai untuk melengkapi berkas.



Lanjut membaca “BERKAS SERTIFIKASI BEBERAPA GURU HILANG”  »»

19 May 2008

Buku Raport Terlambat, Wali Kelas Repot

Buku Raport Yang Baru Datang Itu

Gombong - Lanthing (19/05/08)


Satu lagi cerita tentang centang perenang dunia pendidikan kita. Tanggal 17 Mei 2008, buku raport SMA dikirimkan ke sekolah-sekolah, dan baru tanggal 19 Mei 2008 diumumkan kepada para wali kelas untuk segera mengisinya. Tentu saja hal ini menambah beban kerja para wali kelas.
Menurut Dayat, S.Pd. wali kelas X-2 SMA N 1 Gombong, buku raport semestinya dibagikan pada awal tahun pelajaran, sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. "Kalau baru dibagi sekarang, kami para wali kelas sangat repot, kami kan harus mengisi biodata anak, juga data nilai raport semester 1 dan 2 berbarengan, belum lagi model raport sekarang kan beda dengan yang dulu, sekarang lebih rinci" kata guru mapel fisika ini.
Menurut petugas Tata Usaha SMAN 1 Gombong, buku raport baru dikirim kemarin dari percetakan Grafika Gombong atas pesanan MKKS.

Seorang guru TI, Budi, bahkan menanyakan : "Boleh nggak sih, kalau raport dibuat sendiri dan model komputer, jadi tinggal cetak kan tidak ribet?"

Sementara itu, hal serupa terjadi untuk proses sertifikasi guru. Berdasarkan informasi Kepala SMAN 1 Gombong, Drs. Karyono, saat briefing senin pagi (19/05/08) pihak Dinas P dan K Kabupaten Kebumen baru akan mengumumkan daftar nominasi guru yang akan diusulkan sertifikasi pada tanggal 29 Mei 2008 mendatang, berkas usulan sertifikasi harus sudah sampai di Dinas P dan K tanggal 31 Mei 2008 dan akan dikirim ke UNY Yogyakarta tanggal 3 Juni 2008. Ini berarti guru hanya memiliki waktu DUA HARI untuk melengkapi syarat-syarat sertifikasi.
"Waktu dua hari akan sangat mepet untuk melengkapi berkas sertifikasi yang seabreg-abreg itu" ujar seorang guru.

"Yah, begitulah kalau birokrasi sekobere'.



Lanjut membaca “Buku Raport Terlambat, Wali Kelas Repot”  »»

07 May 2008

'Lonceng Keramat' di SMAN Gombong : Mengejutkan Siswa


Gombong-Lanthing

Siswa SMA Negeri 1 Gombong di Jl. Sempor Lama 64 atau para alumni SMA de Potter ini pasti mengenal gambar 'benda keramat' di atas. Ya, lonceng sekolah ini telah menjalankan tugas selama puluhan tahun sebagai penanda waktu masuk sekolah, ganti jam pelajaran, hingga penanda panggilan para ketua kelas untuk berkumpul.

Apalagi bagi siswa-siswa yang pernah praktikum di laboratorium kimia, selama praktikum kimia minimal dua kali akan terkaget-kaget ketika lonceng ini berbunyi. Hal ini disebabkan letak lonceng yang digantungkan persis di pojok luar lab kimia, sehingga ketika loceng dipukul petugas (biasanya ditabuh oleh Satpam) dengan kerasnya, siswa-siswa yang tengah praktikum akan serempak berseru karena kaget berat : hah ...!, Astaghfirullah ..., wuaduh kaget aku ... atau bahkan eh .. copot .. copot ...!

Tidak jelas mengapa lonceng ini tetap bertengger, padahal sekolah ini telah IT oriented dan memiliki jaringan hot spot/Wi Fi internet.
Usulan beberapa pihak untuk mengganti 'lonceng yang bikin kaget' dengan penanda yang 'lebih ramah anak' belum mendapat tanggapan pihak manajemen sekolah.

Lanjut membaca “'Lonceng Keramat' di SMAN Gombong : Mengejutkan Siswa”  »»

Program TUC SMP juga Mengecewakan

Gombong-Lanthing

Seperti halnya Test Uji Coba UASBN di tingkat SD, program Tes Uji Coba Ujian Nasional SMP (TUC UN SMP) juga mengecewakan banyak pihak. Hasil TUC UN SMP bahkan baru muncul hari sabtu tanggal 3 Mei 2008, padahal Ujian Nasional SMP mulai dilaksanakan Senin tanggal 5 Mei 2008. Ini berarti salah satu fungsi TUC sebagai bahan untuk perbaikan proses pembelajaran dan mengulang materi-materi yang belum dikuasai (remidial teaching), tidak berjalan.
Di lain sisi hasil (nilai) peserta TUC SMP banyak yang kosong (tidak ada nilainya, padahal peserta hadir dan mengerjakan soal). Bahkan nilai mata uji TUC Bahasa Inggris untuk SMPN Kuwarsan sama sekali tidak muncul.

TUC berbiaya Rp. 6.000/peserta, mengujikan 4 mapel UN yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA ini dilaksanakan oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) berkoordinasi dengan Dinas P dan K Kabupaten Kebumen.

Mencermati TUC UASBN untuk tingkat SD dan TUC UN untuk SMP, beberapa pihak menilai ada motif-motif non pendidikan yang tidak sehat ikut mewarnai pelaksanaan gawe menjelang UN ini. Seperti kita ketahui, ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SMP - organisasi serupa sebelum MKKS - terpaksa menghuni hotel prodeo selama 8 bulan dan denda lebih dari 200 juta rupiah, karena tersandung masalah Ulangan Umum (sebuah kegiatan serupa TUC, namun berbeda target dan tujuannya).


Lanjut membaca “Program TUC SMP juga Mengecewakan”  »»

SAKOBEE - Plan Akan Gelar Semiloka Sekolah Ramah Anak

Rapat Persiapan di aula SMAN 1 Gombong

Gombong-Lanthing


Bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, sekaligus pemilik masa depan – maka anak memiliki peran yang sangat strategis untuk menjamin kelangsungan bangsa dan negara.

Untuk itulah anak perlu beroleh kesempatan yang luas untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik maupun social.

Namun pada kenyataannya tempat dimana semestinya anak bisa tumbuh dan berkembang optimal, yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat – belumlah dalam kondisi seperti yang diharapkan. Di sebagian sekolah bahkan masih dijumpai tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik, praktik-praktik bullying pun masih menjadi keseharian anak-anak kita.

Seperti halnya hasil assessment Majlis SAKOBERE tentang ‘pemetaan kekerasan di sekolah’ yang dilakukan terdahulu, menunjukkan bahwa sekolah terkadang bukanlah tempat yang aman bagi anak-anak. Di sekolah masih juga berlangsung berbagai ‘kekerasan’ : mulai dari cacian, bullying, ditempeleng, bahkan pelecehan seksual dengan pelaku beragam, mulai yang dilakukan oleh murid senior, satpam sekolah, hingga oleh guru.

Prihatin oleh kondisi tersebut, Majlis SAKOBERE bekerjasama dengan Plan PU Kebumen berencana akan menggelar semiloka bertajuk ‘perlindungan anak dari tindak kekerasan di sekolah’.

Output semiloka yang diharapkan adalah :

  1. adanya kesepahaman tentang kekerasan anak
  2. berkurangnya tindak kekerasan terhadap anak di sekolah, dan
  3. adanya rumusan masukan untuk kebijakan perlindungan anak di sekolah.

Rapat persiapan telah dilakukan tanggal 5 Mei 2008 di aula SMA Negeri 1 Gombong. Tampak hadir dalam rapat persiapan adalah Pak Suranto (CTA Plan PU Kebumen) Pak Agus Purwanto (Ketua suku SAKOBERE), Pak Markus Kuwat (Kepala SMPN 1 Adimulyo), Pak Adman (Waka Kurikulum SMPN 1 Sempor), dan Mas Agung (‘dosen’ ilmu Sosiologi yang masih ngGTT di SMAN 1 Gombong).

Bila tak ada aral melintang semiloka akan digelar awal Juni 2008.

Lanjut membaca “SAKOBEE - Plan Akan Gelar Semiloka Sekolah Ramah Anak”  »»

30 April 2008

Keselamatan Pengawas UN Terancam



Kebumen - Lanthing (30/04/08)


Kalau kita berasumsi bahwa hanya tentara dan polisi yang menghadapi tugas-tugas berbahaya – sepertinya kita harus merekonstruksi asumsi kita.

Ibu Elli adalah seorang guru Madrasah Aliyah Negeri 1 Kebumen, yang pada gawe besar Ujian Nasional 22 – 24 April 2008 lalu bertugas menjadi Pengawas Ujian di salah satu SMA swasta di Kebumen. Lazimnya seorang pengawas sebelum bertugas beliau telah dibekali dengan ‘prosedur tetap, protap’ UN 2008 dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Maka ketika beliau menjumpai beberapa peserta UN mencoba berbuat curang, beliau dengan halus menegur peserta. Namun bukannya patuh, peserta yang ditegur bahkan menendang kursi dan meja, beberapa peserta lainpun menunjukkan reaksi ketidaksenangan serupa atas teguran Bu Elli.

Maka Bu Elli memilih membiarkan saja dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sesuai prosedur Bu Elli kemudian melaporkan kejadian tingkah laku peserta ujian ini kepada kepala sekolah penyelenggara. Jawaban kepala sekolah penyelenggara sungguh makin membuat Bu Elli kecewa : “Siswa disini Bu, bukan cuma bisa menendang kursi bahkan bisa membunuh” jawab kepala sekolah penyelenggara menanggapi laporan Bu Elli.

Menanggapi ‘ancaman’ kepala sekolah ini Bu Elli memilih diam.

Hal ini diungkapkan Bu Elli pada pada acara Dialog Interaktif Pendidikan yang diselenggarakan Dewan Pendidikan Kabupaten Kebumen di Radio Prima FM pukul 20.00 s.d. 21.00 selasa (29/04/08).

Menanggapi kejadian ini, Drs. Teguh Supriyadi, narasumber dialog yang juga salah seorang panitia Ujian Nasional Tingkat Kabuapaten sekaligus utusan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kebumen yang hadir pada acara dialog berjanji akan menindaklanjuti laporan ini.

Sementara Agus Purwanto, ketua suku SAKOBERE, yang ikut nimbrung bicara dalam dialog interaktif via telpon, meminta kepda Dinas P dan K agar berani bertindak tegas dan tidak hanya berjanji untuk menindaklanjuti tapi tanpa bukti. Menurut Agus, kejadian serupa yang dialami Bu Elli sudah sering terjadi pada UN tahun sebelumnya, dan karena Dinas P dan K membiarkannya maka kejadian serupa terulang dan bahkan menunjukkan frekwensi yang meningkat.

Lanjut membaca “Keselamatan Pengawas UN Terancam”  »»
 
©  free template by Blogspot tutorial