STUDY TOUR
Kisah
duka dari dunia pendidikan kembali berulang. NES (14) siswa kelas II
(Kelas VII - Red) di SMP Muhammadiyah Playen, Gunung Kidul, DI
Yogyakarta, Selasa (22/5) sekitar pukul 14.00, nekat mencoba bunuh diri.
Tindakan tersebut dipicu perasaan malu lantaran yang bersangkutan belum
melunasi biaya karyawisata yang diadakan pihak sekolah ke Cilacap, Jawa
Tengah.
Kini NES masih menjalani perawatab di RSUD
Wonosari, Gunung Kidul. Menurut ibu kandungnya, Pujiantini (40), meski
kesehatannya sudah berangsur membaik, kondisi fisik NES masih tampak
lemah.
Pujiantini menduga tindakan nekat yang
ditempuh NES berkaitan erat dengan rencana karyawisata yang dilaksanakan
pihak sekolah anaknya pada 27 Mei mendatang. Menurut Pujiantini hingga
selasa lalu anaknya belum bisa membayar biaya karyawisata senilai Rp
155.000. Padahal, pihak sekolah memberi batasan waktu hingga Jum’at
pekan lalu.
“Kepala sekolah sebenarnya tidak terlalu memaksa, tetapi panitia mengejar-ngejar supaya lekas membayar” ujarnya.
NES
sendiri, Sabtu pekan lalu, sempat dipanggil pihak sekolah. Kepada pihak
sekolah, NES berjanji akan melunasi pembayaran pada hari Senin. Namun,
karena belum mendapat uang, pada Senin dan Selasa ia tidak masuk
sekolah.
Sukarno, Kepala SMP Muhammadiyah Playen,
mengatakan, karyawisata tersebut bukan kegiatan wajib. Ada beberapa
siswa yang juga merasa keberatan karena alasan ekonomi. Lagi pula,
katanya, pembayaran kegiatan yang direncanakan sejak awal tahun tersebut
sebenarnya dapat diangsur.
“Mereka tidak diwajibkan
membayar dengan catatan benar-benar tidak mampu. Ada beberapa orangtua
siswa yang datang ke sekolah untuk meminta keringanan. Hal itu ternyata
tidak dilakukan pihak keluarga korban” ujar Sukarno.
(KOMPAS, Kamis, 24/05/2007)
Membaca
berita di atas, saya teringat kejadian beberapa puluh tahun lalu.
Tepatnya tahun 1988, saat saya baru lulus sekolah guru, dan mulai
mengabdi menjadi guru tidak tetap (GTT) di sebuah SMA swasta di kota
Gombong. Kala itu saya masih tinggal bersama orang tua di Puring.
Suatu
sore sekitar jam 15-an, saya nongkrong di Warung Bi Dirah, warung di
prapatan depan rumah, tempat saya biasa ngopi dan ngobrol dengan
beberapa teman.
Tengah asyik ngobrol, datang seorang laki-laki
paruh baya mengendarai pit onthel lanang, dengan keranjang di kiri-kanan
tersangkut di boncengan sepeda.
Sambil masuk warung, lelaki itu memesan : “Sega jangan Yu, karo kopi”.
Walau tidak kenal, sayapun berusaha ramah dan menyapa lelaki itu : “Saking pundi Kang?”.
“Lah niki, saking Gombong, mbeta gori, ning kalih mampir-mampir dados tekan sonten” jawab lelaki itu.
“Mampir saking pundi si?”
“Golet
butuh Mas, ajeng kalih adol pit ujare kula, ning mboten onten sing
ngenyang” jawabnya sambil nyeruput kopi yang sudah tersaji.
“Lhah,
deneng si pite diedol, lha ngenjang sampeyan olihe mbeta gori teng
Gombong si kepripun? Ajeng kangge napa si duite?” saya mencoba mengorek
keterangan.
“Ajeng ngge mbayar studi tour anake kula teng Jakarta” jawabnya lagi.
“Putrane sekolah teng pundi si?” Tanya saya lagi.
“Teng SMA Purnama Gombong”.
Jawaban terakhir lelaki setengah baya ini membuat saya tercekat. Betapa tidak, SMA Purnama adalah sekolah dimana saya mengajar!
Malam
harinya saya menjadi sulit tidur, bukan karena minum kopinya Bi Dirah,
tapi memikirkan lelaki yang hendak menjual pit onthel, alat produksi dan
alat transportasinya itu, untuk membayar biaya study tour anaknya.
Pertanyaan dan bayangan memenuhi otak. Bagaimana lelaki itu besok
mengangkut gori ke Pasar Gombong tanpa pit onthel (kala itu belum ada
angkot seperti sekarang), Apakah hasil penjualan pit onthel butut itu
mencukupi untuk membayar biaya study tour?
Tahun 1989,
dengan dukungan beberapa guru, saya merintis dan mendirikan Kelompok
Ilmiah Remaja (KIR), beranggotakan sekitar 30-an murid, yang dibagi
dalam kelompok-kelompok kecil, 5 hingga 10 siswa. Kegiatan outdoor
pertama adalah melakukan ‘penelitian lapangan’ di Desa Srati Kecamatan
Ayah, meneliti penggunaan obat gula sebagai zat additif (zat tambahan
pada makanan) pada proses pengolahan gula jawa, dan di Pantai
Karangduwur meneliti biota laut.
Penelitian lapangan mengambil
waktu tiga hari, dengan pembagian hari pertama dan kedua melakukan
penelitian dan hari ketiga melakukan bhakti masyarakat.
Selang sebulan kami melaporkan program KIR sekaligus hasil penelitian kepada kepala sekolah dan memaparkannya di forum guru.
Kami
menawarkan pada forum agar program penelitian lapangan ini dijadikan
pengganti study tour. Dan alhamdulillah kepala sekolah dan para guru
setuju.
Dan sejak saat itu, tiap tahun hingga tahun 1995, saat
saya melepas status GTT, SMA Purnama mengadakan ‘Penelitian Lapangan’,
sebagai pengganti program study tour.
Berdasarkan
pengalaman membimbing ‘Penelitian Lapangan’, program ini memiliki
beberapa keunggulan dibanding dengan program study tour, yaitu :
- Murah.
Biaya yang dibutuhkan jauh lebih murah dibandingkan study tour.
Komponen biaya transportasi dari sekolah (di Gombong) ke lokasi
penelitian di Srati Ayah (misalnya), murah dan bahkan bisa ngecer. Juga
komponen biaya makan, biasanya kami minta tolong Pak Kades atau salah
satu penduduk, atau warung di desa untuk menyiapkan makan dan minum
peserta selama di desa. Ini jelas jauh lebih murah ketimbang makan di
restoran atau hotel dalam program study tour. Biaya penginapan? Nol.
Sepanjang pengalaman belum pernah ada seorangpun Kades atau penduduk
yang meminta biaya untuk penginapan anak-anak ‘peneliti’ ini.
- Membumi dan Beragam.
Program ‘Penelitian Lapangan’ di desa-desa lebih membumi, karena subjek
penelitian adalah subjek yang ada di desa-desa, dan merupakan persoalan
riil desa. Di lain sisi, siswa peserta penelitian menjadi lebih
mengenal dan memahami persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.
Siswa yang menyukai IPA bisa meneliti serangga yang hidup pohon-pohon,
atau meneliti tentang zat aditif makanan yang digunakan pada masakan
masakan ‘ndesa’, seperti daun salam, laos, kencur, tumbar. Sementara
yang menyukai ilmu-ilmu sosial dapat meneliti tentang berbagai sistem
dan persoalan pemerintahan desa, meneliti kesenian tradisional semacam
ebleg sampai samroh, dan sebagainya. Alhasil, tema atau topik penelitian
yang dituangkan dalam karya tulis siswa menjadi sangat beragam. Jauh
berbeda dengan karya tulis siswa hasil study tour yang nyaris seragam,
dan bahkan merupakan copy paste brosur-brosur yang diberikan oleh
objek-objek study tour yang dukunjungi. Disamping itu, siswa peserta
penelitian bisa merasakan denyut nadi masyarakat desa. Sebagian dari
siswa bahkan ikut ndaut dan tandur di sawah.
- Ilmiah.
Program ‘Penelitian Lapangan’, sesuai namanya, mengedepankan dan
mengasah metoda ilmiah : mulai mengidentifikasi permasalahan, menyusun
hipotesa, hingga mengambil kesimpulan, bahkan menyodorkan berbagai
alternatif solusi. Pada penelitian zat aditif pada pembuatan gula jawa
misalnya, ‘para peneliti muda’ ini mengajukan Natrium benzoat sebagai
zat aditif yang lebih aman untuk menggantikan Natrium bisulphit.
Sayangnya program model ‘Penelitian Lapangan’ ini sering dianggap
terlalu serius, sehingga tidak disukai kebanyakan siswa. Pun program ini
tidak disukai oleh sebagian guru dan kepala sekolah, karena program ini
tidak memungkinkan panitia atau guru-guru tertentu beroleh keuntungan
materi, selain honor membimbing. Berbeda dengan program study tour.
Telah menjadi rahasia umum bahwa pihak biro perjalanan biasanya
menyediakan fee untuk kepala sekolah dan atau untuk panitia study tour,
yang angkanya sangat menggiurkan. Hal di atas
hanyalah salah satu alternatif yang bisa dikembangkan di
sekolah-sekolah. Masih banyak model lain yang dapat dikembangkan oleh
sekolah agar siswa kita lebih mengenali lingkungan dan bisa ikut
merasakan denyut nadi persoalan masyarakat dan bangsanya.
Beberapa
sekolah terlihat sering mengajak siswa-siswanya ke stasiun kereta api
melihat bagaimana petugas mengatur perjalanan kereta api, juga ke DPRD
melihat bagaimana cara anggota DPRD bersidang dan mengambil keputusan,
atau ke kantor pos, ke kantor polisi, ke lembaga pemasyarakatan, ke
pengadilan, dan ke berbagai tempat lain lagi.
Sebenarnyalah
hal demikian sudah diketahui dan dipahami oleh sebagian besar kepala
sekolah dan guru. Hanya sayangnya, terkadang masih saja ‘alasan-alasan
nonkependidikan’ yang justru mengedepan dan mengemuka membutakan akal
budi dan nurani.
(Juli 2007)